Friday, January 1, 2016

Angel of Morning Star Club Review

"Secercah harapan setelah keluar dari penjara yang justru sirna begitu saja karena harus kembali mendekam dalam penjara yang bernama lingkungan sosial." 


Pada awalnya, aku berniat mencari novel tenar asal Korea Selatan yang berjudul Please Look After My Mom karangan Shin Kyung-Sook. Namun, beberapa minggu setelah ditinggalkan untuk menunggu dana yang terkumpul cukup, novel itu sudah tidak dipajang lagi di rak. Sudah dicari di bagian rak novel lainnya pun tak ada. Agar tidak kecewa untuk pulang dengan tangan kosong, aku pun mencari-cari novel lainnya yang menarik untuk dibaca. Akhirnya aku membeli novel berjudul Angel of Morning Star Club yang memiliki tekstur cover buku yang unik.

Angel of Morning Star Club karangan Lim Se-Hyuk menceritakan seorang lelaki muda bernama Lim Hwi-Chan yang merupakan mantan narapidana. Hwi-Chan dituduh sebagai pelaku dalam kasus perampokan, tetapi ternyata vonis yang dijatuhkan merupakan tuduhan yang keliru. Hwi-Chan adalah korban salah tangkap. Ia telah mengutarakan hal yang sebenarnya terjadi, tetapi tak ada satupun polisi yang mengindahkan pembelaannya. Setelah keluar penjara, Hwi-Chan kesulitan mencari pekerjaan karena label mantan narapidana. Lim Hwi-Chan hampir patah arang dalam hidup hingga ia menemukan keberadaan klub Morning Star yang ditujukan untuk para mantan narapidana.

Sebelum memulai untuk membaca novel ini, aku agak khawatir karena ada satu reviewer yang menyebutkan bahwa plot cerita ini lambat dan kurang klimaks. Namun, seusai membaca novel ini, perasaan menjadi hangat karena ceritanya yang membahas kemanusiaan dan diskriminasi. Angel of Morning Star Club memberitahu pembaca bahwa mantan narapidana juga harus diperlakukan selayaknya seperti manusia. Tidak semua mantan narapidana akan selalu mengulang kejahatannya, ada juga yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Memang buah pikiran tadi terdengar naif, tetapi terdengar lebih tidak adil jika rakyat biasa tidak diperbolehkan untuk sekolah dan bekerja menafkahi keluarganya hanya karena suatu label menggantung di punggungnya.

Untuk pembaca yang ingin menyantap sajian novel yang heartwarming, novel ini boleh dicoba. Membaca novel ini seperti menikmati drama Korea, tetapi karakter utama di novel ini tidak begitu cengeng dan berhasil bangkit dari keterpurukannya. Aku juga menyukai karakter Lim Hwi-Chan yang easy-going, tetapi rela berkorban demi orang-orang yang dicintainya. Gaya penulisan Lim Se-Hyuk tergolong sederhana, tetapi mudah dicerna oleh pembaca. Karena hal itu, aku selesai membaca novel ini hanya dalam hitungan seminggu lebih.

Rating: 3.8/5

Tuesday, August 11, 2015

Mission: Impossible – Rogue Nation Review

"Desperate times, desperate measures, Sir."



Film ini merupakan film action perdana yang kutonton dua kali berturut-turut di bioskop. Aku sering berpendapat bahwa film bertema action jarang bisa dinikmati lebih dari sekali karena plotnya yang kadangkala sederhana dan action sequencenya yang sangat intens sampai harus mengatur napas karena tegang (contoh Mad Max: Fury Road). Berbeda dengan film-film yang pembawaan plotnya santai atau film yang penuh dengan misteri pelik seperti Interstellar dan Memento, aku telah menonton Interstellar sampai empat kali dan tidak pernah merasa bosan. Aku pun memutuskan untuk menikmati Mission: Impossible yang ke-5 karena Tom Cruise tidak menyewa double stunt ketika ia melakukan adegan berpegangan pada pintu pesawat terbang di ketinggian 5000 kaki. Teman-temanku pun menjuluki Tom Cruise sebagai Jackie Chan-nya Hollywood.

Mission: Impossible – Rogue Nation menceritakan misi baru Ethan Hunt (diperankan oleh Tom Cruise) untuk membasmi sebuah organisasi kriminal bernama The Syndicate yang telah berhasil membuat kekacauan di sejumlah kawasan dunia. Seperti biasa di awal setiap film Mission: Impossible, Ethan Hunt diberikan voice message tentang ringkasan misi barunya dan voice message tersebut akan meledak dalam hitungan lima detik. Yang membuat rutinitas itu berbeda di film ini adalah voice message itu bukan datang dari organisasi IMF tempat Ethan Hunt bekerja, melainkan dari The Syndicate itu sendiri. Pada momen yang bersamaan di negara yang berbeda, IMF secara resmi dibubarkan karena dinilai telah melanggar aturan ketika IMF melaksanakan beberapa misi terakhir. Berbagai misi pun diserahkan kepada CIA dan CIA akan tanpa lelah mencari keberadaan Ethan Hunt. Bersama rekan-rekan dekat Ethan Hunt, mereka pun berambisi untuk menghancurkan pilar The Syndicate dan ketuanya yang bernama Solomon Lane (diperankan oleh Sean Harris) tanpa bantuan siapapun. Di tengah misi yang sedang berlangsung, Ethan Hunt bertemu dengan Ilsa Faust (diperankan oleh Rebecca Ferguson), seorang anggota The Syndicate yang juga mengambil peran sebagai double spy untuk badan intelijen Inggris. Ilsa Faust memiliki tujuan sama seperti Ethan Hunt yaitu mengincar Solomon Lane.

Banyak orang yang menilai bahwa plot Mission: Impossible – Rogue Nation tidak seseru predesesornya, tetapi karakter-karakternya lah yang membuat film ini patut diacungi jempol. Salah satu karakter yang paling tidak terduga di depan mata penonton adalah Ilsa Faust. Tidak ada satupun yang tahu kepada siapakah Ilsa akan berpihak hingga penghujung film. Rasanya Ilsa yang malah menjadi peran protagonis di film ini dibandingkan Ethan hahaha. Meski begitu, aku pun salut pada sikap Ethan yang konsisten dan setia dengan rekan-rekannya. Benji (diperankan oleh Simon Pegg) hadir dengan lawakan yang lebih kocak dan lebih badass. Hanya sayangnya, William Brandt (diperankan oleh Jeremy Renner) kurang mendapat porsi action dibandingkan film sebelumnya. Namun, aku maklumi hal itu karena William diawasi ketat oleh CIA sehingga hanya bisa mengontrol aktivitas Ethan Hunt dan rekannya dari jauh. Antagonisnya juga tidak kalah cerdik. Tidak perlu baku tembak di akhir film hingga salah satu pihak meregang nyawa, hanya dengan menyusun strategi di penthouse mampu membuat tim Ethan hampir frustrasi.

Dari segi adegan, action sequence yang ditawarkan tidak berlebihan, tetapi masih bisa dinikmati oleh penonton secara antusias. Acara kejar-kejaran motor, pegangan pintu pesawat, dan menyelam selama tiga menit membuat penonton was-was. Sekali lagi, tidak ada double stunt untuk Tom Cruise. Jadi, mari kita semua mengangkat topi untuk aktor yang satu ini. Akhir kata, film ini direkomendasikan untuk ditonton di bioskop.

*plays Mission: Impossible Theme*

Ah, one of the movie's themes that will be everlasting.

Monday, July 13, 2015

Happy Together Review

"Turns out that lonely people are all the same." 


Aku akhirnya tergugah untuk menulis review film yang satu ini. Film ini merupakan film Hongkong pertama yang melibatkan adegan hubungan seksual antara dua pria secara eksplisit. Happy Together yang dirilis pada tahun 1997 dapat disebut sebagai salah satu masterpiece yang pernah dibuat oleh Wong Kar-Wai. Aku harus mengangkat topi kepada Wong Kar-Wai serta dua aktor yaitu Leslie Cheung dan Tony Leung, yang berani memerankan dua tokoh utama. Sekilas, film ini identik dengan Brokeback Mountain yang dibintangi oleh Heath Ledger dan Jake Gyllenhaal karena sama-sama bertema gay. Namun, aku lebih menyukai Happy Together dibandingkan dengan Brokeback Mountain setelah aku menonton film ini. Happy Together menceritakan hubungan yang jauh lebih kompleks dan depressing dibandingkan yang dimiliki oleh Brokeback Mountain. Jadi, judul film ini sangat ironis dan benar-benar berbanding terbalik dengan plot yang ditawarkan.

Happy Together memperkenalkan dua tokoh utama yang sedang menjalin hubungan yaitu Ho Po-Wing (diperankan oleh Leslie Cheung) dan Lai Yiu-Fai (diperankan oleh Tony Leung). Mereka bercita-cita untuk mengunjungi Air Terjun Iguazu yang berlokasi di Argentina dan mereka pun berkelana ke negara yang beribukota Buenos Aires. Namun, hubungan mereka ternyata tak seindah yang penonton bayangkan. Mereka seperti lampu remang yang berkedap-kedip kehabisan daya listrik, on-off relationship alias putus-nyambung. Ho dan Lai terlibat konflik dan mereka memutuskan untuk berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing di Buenos Aires. Lai bekerja di suatu bar untuk menyambung hidup dan menyisihkan uang bekal pulang ke kampung halamannya yaitu Hongkong. Berbeda dengan Lai, Ho menjelajahi perjalanan asmaranya lebih jauh dengan mendekati orang-orang Argentina yang memiliki orientasi seksual yang sama. Lai lama-lama jenuh dengan hubungan tanpa visi serta misi ini. Lai pun bertemu dengan seorang lelaki lain yang dapat membuatnya tersenyum bahagia bernama Chang (diperankan oleh Chang Chen). Dari titik ini, masing-masing kehidupan Ho dan Lai membentuk dua sudut yang saling bertolak belakang.

Penjelasan hubungan Ho dan Lai dapat dibilang realistik. Hubungan yang ditawarkan oleh Brokeback Mountain benar-benar manis sebelum lingkungan menolak dan akhirnya mengkandaskan hubungan mereka. Sedangkan Ho dan Lai tidak ditekan oleh lingkungan sekitar, tetapi perasaan mereka dibuat lelah oleh ketidakcocokkan mereka berdua. Ho dengan mudahnya mengajak Lai untuk memulai dari awal lagi dan melupakan segala cekcok yang telah terjadi di masa lalu, tetapi Ho sudah berkali-kali mengkhianati kesetiaan Lai. Lai selalu jatuh ke pangkuan Ho, terlepas perbuatan yang telah dilakukan Ho terhadap Lai. Meski begitu, Lai juga menyimpan dendam kepada Ho dengan menyembunyikan paspor Ho agar Ho tidak bisa pulang ke Hongkong. Pada akhirnya, mereka pun berpisah dan sempat mengisi kesendirian mereka sendiri dengan mencumbu pria-pria lain. Kompleks? Cek. Membuat frustrasi? Oke. Kesal? Pasti. 

Namun, ada dua adegan yang membuatku terenyuh yaitu pertama, ketika Ho dan Lai saling mendekap satu sama lain dengan kondisi Ho babak belur karena gagal mengembalikan uang yang telah dipinjamnya kepada orang lain. Adegan kedua adalah saat Ho dan Lai menari Tango di dapur apartemen. Menurut banyak reviewer, tarian Tango mereka berdua secara tidak langsung merupakan ilustrasi hubungan Ho dan Lai. Lai yang tidak pandai berdansa, selalu ditegur oleh Ho saat Lai salah mengambil langkah. Lai malah memarahi balik Ho atau dengan pendek kata, arogan. Seiring waktu, mereka berdua akhirnya bisa berdansa selaras dengan tawa dan senyum merekah di bibir, walaupun hanya sebentar saja. Oleh karena itu, di film ini tidak ada peran antagonis, melainkan hanya karakter-karakter yang manusiawi. Hal inilah yang membuat film ini benar-benar berkesan di hati.


Memang plot dari film ini tergolong sederhana, tetapi penonton dapat mengadakan riset iseng terhadap pengembangan karakter yang berlangsung di film ini. Harusnya Wong Kar-Wai memenangkan penghargaan karena membuat terobosan baru yang mencengangkan. Leslie Cheung dan Tony Leung membentuk chemistry antar kedua karakter menjadi cocok. Fun fact: Tony Leung tidak diberitahu oleh Wong Kar-Wai apabila ia akan melakukan adegan intim dengan Leslie Cheung sebelum Tony Leung syuting. Jadi, salut beneran deh kepada dua aktor hebat itu.

Monday, July 6, 2015

The Midnight Sun: Leslie Cheung

Biasanya, aku tidak terlalu memerhatikan film-film produksi Hongkong dan aku pun tidak pernah menjadi fans aktor/aktris Hongkong. Jika salah satu channel televisi sedang menayangkan film Hongkong yang telah di-dubbing dengan bahasa Indonesia, aku sekedar menikmati beberapa adegan yang kaya akan action sequence pertarungan dengan tangan kosong. Selain itu, aku kadang-kadang tertawa terpingkal-pingkal menyimak aksi slapstick para pemeran film komedi Hongkong. Aku menganggap bahwa film-film Hongkong itu hampir setara dengan Bollywood. Sejauh ini, hanya ada satu film Hongkong yang berkesan di hati yaitu Kungfu Hustle yang disutradarai oleh Stephen Chow. Sudah. Tidak kurang, tidak lebih. Film-film Hongkong lain yang telah lalu-lalang tanpa henti di belantika pertelevisian Indonesia, tidak ada yang sanggup mencuri selera filmku yang cukup tinggi.

Mindset-ku mengenai perfilman Hongkong pun banting setir ketika aku mengenal seorang sosok bernama Leslie Cheung.


Melalui salah satu episode Running Man yang berlatar tempat di Hongkong, aku diperkenalkan lagu soundtrack film A Better Tomorrow berjudul Love in the Past Years yang dilantunkan oleh Leslie Cheung. Aku pun iseng mendengarkan lagu orisinilnya di YouTube dan suaranya Leslie Cheung memang indah. Suaranya tidak terlalu keras, tidak terlalu kasar seperti kebanyakan lelaki bernyanyi, tetapi bening dan mengalun. Aku pun memutuskan untuk menonton film A Better Tomorrow untuk melihat aksi lihai Leslie Cheung dalam memerankan seorang polisi muda. Setelah menonton, kuakui Leslie Cheung memang tampan dan anehnya, aku menangkap suatu kesan sensual yang mengerubungi figurnya seperti aura. Apalagi saat Leslie Cheung berpose sembari mengisap sebatang rokok, kesan sensualnya makin menjadi-jadi. He looks like a sassy master, but he's such a mysterious guy.


Selain penampilan dan suara, Leslie Cheung juga sangat multitalenta dan aktingnya pun tidak main-main. Sejauh ini, Leslie Cheung sering memerankan peran protagonis yang sedang mencari jati diri atau protagonis yang sedang merasa kesepian dan hampir depresi. Bahkan, ia dianggap sebagai salah satu aktor Hongkong yang berani mengambil peran seorang pria gay di film Happy Together dengan Tony Leung Chiu-Wai sebagai lawan main. Leslie Cheung sempat menjadi idola di belantara wilayah oriental dan film Farewell My Concubine (film ini sudah di-review di halaman blog ini) sempat dinominasikan di Oscar berkat banyak prestasi dan kerja keras yang salah satunya adalah performa Leslie Cheung.


Tak lama setelah sukses memerankan sebagai seorang pria gay di film Happy Together, Leslie Cheung pun melakukan coming out bahwa dia adalah seorang bisexual pada suatu interview di majalah Time (menurut beberapa narasumber, ia sebenarnya adalah gay). Jujur, pada titik ini, aku sangat salut kepada Leslie Cheung yang mempunyai nyali besar. Ia tak takut untuk menjadi diri sendiri di hadapan publik. Ia tidak merasa enggan untuk menyembunyikan orientasi seksualnya kepada fans dan media. Di daratan Asia, masih sedikit orang-orang yang berani melakukan coming out pada sekitar tahun 90-an. Oleh karena itu, aku sangat menghargai keberanian seorang Leslie Cheung. Akhirnya, Leslie Cheung bisa menjalin hubungan dengan seorang pria lain tanpa harus bermain petak umpet dengan dunia.

Leslie Cheung dan Tony Leung Chiu-Wai di film Happy Together

Namun, sepertinya lingkup publik Hongkong belum siap akan keputusan Leslie Cheung.

Aku sempat membaca berbagai pendapat dari para netizen di Internet, beberapa situs web terkenal, dan pengarang biografi Leslie Cheung tentang perlakuan media terhadap Leslie Cheung pasca coming out. Banyak sekali gosip menyebar yang memojokkan Leslie Cheung. Bahkan, pembawa acara salah satu penghargaan film membuat guyon mengenai kaum gay sembari kamera menyorot Leslie Cheung yang sedang duduk di bangku penonton. Entah karena alasan apa, Leslie Cheung pun sempat tinggal di Kanada untuk beberapa periode, tetapi ia tetap kembali ke kampung halamannya yaitu Hongkong.

Jika tak ada rasa kebahagiaan, semua akan terasa hampa dan tidak peduli seberapa banyak harta yang menggunung di rekening bank atau seanggun apapun penampilan di hadapan deretan kamera. Pada tahun 2003, Leslie Cheung dilaporkan lompat dari ketinggian 24 lantai pada salah satu hotel termasyur di Hongkong. Publik pun diguncang sekali lagi. Setelah diadakan konferensi pers, Leslie Cheung telah lama mengidap depresi dan sempat melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Menurut pihak manajer Leslie Cheung, ada suatu gangguan dalam otak Leslie Cheung yang memicu penyakit depresi. Meski begitu, banyak orang menduga bahwa Leslie Cheung bunuh diri karena ia sudah tidak tahan pada media Hongkong yang sangat defensif terhadap dirinya. Perlakuan media ini terus berlanjut semenjak pasca coming out hingga di tahun ia mencabut nyawanya sendiri.

Sampai sekarang, Leslie Cheung telah mewariskan berbagai prestasi dan menelurkan inspirasi bagi para penyanyi dan aktor. Ia telah disebut-sebut sebagai bapak pendiri genre musik Cantopop. Leslie Cheung pun terkenal sebagai penyanyi yang menyumbangkan keindahan suaranya bagi soundtrack film yang juga dibintangi olehnya. Akhirnya, aku menobatkan Leslie Cheung sebagai aktor Hongkong favorit. Aku juga ingin berterima kasih kepada Leslie Cheung telah mengenalkan film-film Hongkong yang tak hanya bergenre action, tetapi juga drama hingga film yang bertema LGBT.

Miss you much, Leslie Cheung.

 

Sunday, June 28, 2015

Farewell My Concubine Review

"What does it take to become a star?"


Pada awalnya, aku mengenal film Farewell My Concubine dari salah satu episode acara Running Man yang syuting di Hongkong. Pada game pertama, mereka ditugaskan untuk menjawab kuis seputar belantara perfilman Hongkong. Salah satu dari pertanyaan tersebut mengenai film terkenal yang bertema opera Tionghoa dan jawabannya adalah Farewell My Concubine. Selain Farewell My Concubine, aku juga mengenal sebuah film cult bergenre action hasil besutan John Woo yaitu A Better Tomorrow. Salah satu aktor Hongkong multitalenta bernama Leslie Cheung, sama-sama menjadi peran utama di kedua film tersebut. Prestasi Leslie Cheung yang menjadi motivasiku untuk memburu film Farewell My Concubine yang konon katanya juga amat melegenda. Review-review di berbagai situs web, termasuk Roger Ebert, memberikan rating minimal 4/5 atau 8.5/10 dan film ini sampai dinominasikan Oscar. Fakta lain mengatakan bahwa film ini cenderung membahas homosexuality. Wah, makin penasaran nih buat nonton. Coba saja Leslie Cheung masih hidup hingga kini, ia pasti sudah bisa menembus dunia Hollywood seperti Andy Lau, Chow Yun Fat, Jackie Chan, dan Jet Li.

Farewell My Concubine berceritakan tentang kehidupan dua aktor pemeran opera Tionghoa tradisional bernama Cheng Dieyi (diperankan oleh Leslie Cheung) dan Duan Xiaolou (diperankan oleh Zhang Fengyi). Mereka telah bersahabat semenjak kecil di tempat pelatihan opera yang memiliki didikan yang sangat disiplin. Dieyi dan Xiaolou terkenal lihai memerankan seorang selir dan seorang raja dalam opera bertajuk 霸王别姬 (The Hegemon-King Bids Farewell to His Concubine). Kisah pertemanan mereka pun semakin intim hingga seorang perempuan bernama Juaxian (diperankan oleh Gong Li) mulai menjalin asmara dengan Xiaolou. Selain itu, eksistensi mereka sebagai aktor opera tradisional diuji oleh perang dan revolusi yang terjadi di Tiongkok selama puluhan tahun.

Farewell My Concubine berdurasi hampir tiga jam dan kuakui bahwa ini adalah salah satu film drama yang benar-benar intens bagiku. Film ini juga membahas secara singkat tentang sejarah yang telah diukir di daratan Tionghoa dari era 20'an hingga 70'an. Mulai dari penjajahan Jepang hingga pemerintah tirani yang menganut paham komunis, banyak nyawa tak berdosa yang telah menjadi korban. Setelah diperhatikan kembali, film ini tidaklah berfokus pada homoseksualitas yang melingkari hubungan Dieyi dengan Xiaolou. Farewell My Concubine menitikberatkan kehilangan identitas Dieyi yang menjadi feminim karena terus menerus berlatih dan memerankan menjadi seorang selir. Dieyi tidak pernah berkesempatan memerankan seorang tokoh laki-laki karena Dieyi telah 'divonis' oleh pelatihnya bahwa Dieyi cocok menjadi seorang perempuan. Selain kehilangan identitas maskulin, Dieyi juga merupakan anak yang dibuang dan hanya Xiaolou yang peduli kepada Dieyi di tempat pelatihan opera. Oleh karena itu, Dieyi amat menyayangi Xiaolou.

Secara keseluruhan, Farewell My Concubine merupakan salah satu film Mandarin yang masterpiece dan film ini pantas masuk nominasi Oscar. Aktingnya Leslie Cheung yang sangat mengkhayati dan cerita pedih yang disuguhkan menjadi dua pilar penting. Ironisnya, film hebat ini sempat dilarang tayang di daratan Tiongkok karena menceritakan sejarah Tiongkok mengenai revolusi komunis yang ingin menghilangkan opera tradisional. Akhir kata, film ini wajib untuk ditonton dan film ini memang berkesan di hati.

Saturday, May 30, 2015

Ergo Proxy Review

"Cogito ergo sum. I think, therefore I am."


Sudah lama aku tidak menonton sebuah seri anime sampai selesai dan sampai browsing di internet hanya untuk mencari informasi mengenai seri anime tersebut. Seingatku, anime yang paling terakhir kunikmati adalah Ghost in the Shell. Ghost in the Shell adalah salah satu anime yang legendaris dan menginspirasi sutradara The Matrix. Dari Ghost in the Shell, aku mulai mengenal anime yang bernama Ergo Proxy. Menurut para netizen dan fans Ghost in the Shell, Ergo Proxy sangat highly recommended karena memiliki tema dan alur cerita yang hampir sama dengan Ghost in the Shell. Aku belum melanjutkan menonton Ghost in the Shell semenjak libur semester lalu. Untuk melepas penat sehabis menjalani semester ini, aku iseng mencicipi Ergo Proxy.

Holy hell. Wow.

Episode pertama berhasil memancing rasa penasaranku terhadap anime ini. I love this! Ergo Proxy menawarkan tema steampunk, psychological, filosofi hidup, dystopia, dan sedikit intrik politik. Warna gelap mendominasi setiap grafik adegan yang sangat menggambarkan suasana latar dunia yang kelam. Ergo Proxy bercerita tentang seorang inspektur muda bernama Re-L Mayer yang tinggal di kota bernama Romdeau. Dunia pada saat itu sebagian hancur karena suatu percobaan penemuan suatu bahan bakar metana untuk menggantikan bahan bakar fossil. Di Romdeau, semua penduduk termasuk manusia dan AutoReiv (sebutan robot) hidup sejahtera. Walau begitu, virus bernama Cogito menyebar dan menyerang para AutoReiv. Karena virus cogito, AutoReiv memiliki self-awareness seperti manusia dan mulai bertingkah seperti manusia misalnya berdoa, meluapkan emosi, dan lain-lain. Di samping itu, pemerintah kota Romdeau diam-diam mengadakan eksperimen untuk meneliti suatu makhluk yang luar biasa kuat.

Re-L merasa hidupnya sangat membosankan sampai ia bertemu dua makhluk yang sedang diteliti oleh pemerintah. Mereka dinamakan Proxy. Lalu, Re-L ditugaskan untuk menangkap seorang pria misterius bernama Vincent Law yang diduga memiliki hubungan dengan Proxy. Re-L pun bertanya-tanya, siapakah Vincent? Apa kaitan Vincent dengan Proxy? Apakah Proxy itu sebenarnya? Mengapa ada Proxy di dunia ini? Siapakah yang menciptakan Proxy? Dari titik inilah, petualangan Re-L dimulai untuk mencari jawaban dari segudang pertanyaan dan tentu saja, menguak identitas Vincent Law yang sesungguhnya.

Fiuh, Ergo Proxy benar-benar intens dan kaya akan filosofi, metafora, serta alegori. Ketika menonton setiap episode, aku harus sangat memperhatikan setiap dialog agar dapat mengerti apa yang sedang terjadi. Selain itu, nilai plus utama yang dimiliki oleh Ergo Proxy adalah character development yang menakjubkan. Tidak ada protagonis yang murni protagonis dan tidak ada antagonis yang murni antagonis. Karakter-karakter yang ada di Ergo Proxy terbilang manusiawi dan mereka masing-masing memiliki tujuan hidup dan tekad yang kuat, termasuk para AutoReiv. Satu lagi, ending Ergo Proxy sangat sangat sangat keren! Vincent Law berhasil masuk ke dalam daftar karakter anime terfavoritku.

Memang, Ergo Proxy bukanlah anime untuk semua orang. Ergo Proxy bukanlah anime yang bisa dilahap sekali saja, tetapi perlu diresapi dan bahkan dilahap ulang untuk mengerti sejarah, latar tempat dan karakter yang ada di Ergo Proxy. Alur ceritanya pun kadang-kadang membingungkan dan bahkan, ada beberapa episode yang sangat penuh akan filosofi hidup yang implisit. Meski begitu, Ergo Proxy pantas disebut sebagai salah satu anime tentang dystopia yang terbaik. Character development yang patut diacungi jempol, grafik yang bernuansa dark, dan konsep cerita yang baik nan kompleks membuat Ergo Proxy berkesan di hati.

Aku harap aku bisa menemukan anime lain yang tingkatnya setara dengan Ergo Proxy. Menurut website anime seperti myanimelist dan Funimation, Serial Experiments Lain, Psycho-Pass, Steins;Gate, Eden of the East, Neon Genesis Evangelion, Ghost in the Shell (ini sih udah jelas hahaha) mempunyai satu tema dengan Ergo Proxy. Jadi, bagi para pembaca yang menyukai anime-anime di atas, disarankan menonton Ergo Proxy.

Satu hal lagi, opening dan endingnya keren banget astaga. Opening dan ending theme-nya pun sama-sama berbahasa Inggris. Opening theme-nya adalah Monoral - Kiri. Ending theme-nya? Eng ing eng...Radiohead - Paranoid Android. Radiohead di sebuah anime. One of the best things ever.

By the way, Vincent Law is really cool! *fangirls*

Saturday, May 23, 2015

Mad Max: Fury Road Review

"A lovely day! What a lovely day!"


Untuk me-refresh pikiran setelah belajar, aku akan menulis sebuah review film yang sedang booming pada minggu ini. Ya, dari judul postingan blog dan poster yang terpampang sudah terlihat jelas jawabannya yaitu Mad Max: Road Fury. Dibuat oleh sutradara yang juga membuat film Mad Max pada tahun 70-an, Mad Max: Road Fury adalah film action yang berhasil memompa adrenalin penonton selama dua jam pas. Namun, tak hanya ledakan, kejar-kejaran, baku tembak dan hantam yang ditawarkan oleh film yang spektakuler ini. Film ini juga menawarkan plot cerita yang cukup sederhana, tetapi berkesan di hati penonton.

Film ini bertema post-apocalyptic dan dystopia sehabis terjadi banyak perang besar demi memperebutkan sumber daya yaitu minyak dan air. Sebagian besar wilayah di dunia hanya berhamparkan pasir dan limbah. Karena sumber daya yang semakin menipis, masyarakat mulai kehilangan akal dan saling meneror siapapun untuk mendapatkan sumber daya bumi. Kehidupan seorang lelaki bernama Max Rockatansky (diperankan oleh Tom Hardy) yang penuh dengan penyesalan dan depresi, mulai berubah ketika ia diculik oleh segerombolan War Boys dan bertemu seorang wanita tangguh bernama Imperator Furiosa (diperankan oleh Charlize Theron).

Imperator Furiosa menjadi karakter wanita favoritku, sama seperti Motoko Kusanagi dari Ghost in the Shell dan Lightning dari Final Fantasy XIII. Mad Max: Road Fury menghadirkan banyak karakter utama yang ingin berjuang, bertahan hidup, dan mencari keluarga mereka yang terpisah-pisah karena perang besar. Setting dunia yang ada di Mad Max: Road Fury sangat merepresentasikan dunia realita yang memaksa setiap penghuninya untuk terus bertahan hidup dan berjuang, terlepas dari post-apocalyptic dan tema steampunk. Banyak film action yang seperti angin lalu bagiku, tetapi tidak untuk film ini. Jadi, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Film ini memiliki komposisi action-packed dan drama yang pas. Tidak ada cliche dan tidak ada humor yang dipaksakan.

Wednesday, March 25, 2015

The Magnificent Complexity of Philosophy

Ada yang bilang bahwa mempelajari filsafat membuat kita dekat dengan Tuhan karena kita mempelajari akar dari segala ilmu. Ada yang bilang bahwa mendalami filsafat menjauhkan kita dari Tuhan karena kita mencari kebenaran. Apakah semua ini hanyalah konstruksi manusia demi tatanan masyarakat? Ataukah, memang benar ada?

Ah, jadi ikutan skeptis begini. Well, kalo kita tidak skeptis, semua informasi rekayasa pun kita telan bulat-bulat. Alasan kenapa aku tiba-tiba membahas filsafat karena aku mengunjungi perpustakaan Fakultas Filsafat sore ini. Aku berniat untuk meminjam buku karangan Fritjof Capra karena ibuku ingin membaca buku itu. Sayangnya, buku-buku yang ada di perpustakaan itu tidak bisa dipinjam.

Dua penjaga perpustakaan itu ngeliat aku kayak alien lagi berkunjung. Canggungnya ga tanggung-tanggung hahaha. Tapi, suasana pun menjadi cair pas aku ngasih tau aku dari kampus mana dan bapak penjaga perpustakaan menjelaskan peraturan mengenai buku-buku yang tidak boleh dipinjam. Aneh, emang ada apaan sampai ga boleh dipinjam begini? Akhirnya, bapak penjaga perpus mempersilakan aku untuk membaca-baca koleksi buku perpustakaan.

Padahal baru lemari pertama aja udah bikin aku tercengang.

Banyak buku-buku yang belum pernah kubaca atau kulihat sebelumnya, tetapi pengarang-pengarangnya benar-benar bikin aku excited. Hegel, Habermas, Leo Tolstoy, Albert Camus, bahkan St. Thomas Aquinas aja ada! Selain itu, ada Al-Quran dalam beberapa bahasa dan Injil (perjanjian lama dan perjanjian baru) dalam beberapa bahasa juga (bahkan, bahasa Sunda juga ada). Selain agama, perpustakaan ini menyimpan buku-buku mengenai filsafat, sains, feminisme, masalah mengenai dogma agama dan sosial, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bener-bener betah di situ dan ga kerasa udah jam 3 (kebetulan hujan sudah berhenti turun waktu itu).

Pas pulang, aku disambut dengan latar belakang disertasi milik ibu yang sudah selesai. Filsafat, psikologi, dan fisika. Sub-atomik, hukum ketidakpastian Heisenberg, Schrodinger, fisika kuantum yang dicetus oleh Max Planck, pergerakan elektron, pengobatan...sumpah keren banget. Mudah-mudahan ibu bisa menyelesaikan disertasinya dalam jangka waktu dekat.

Aku merasa benar-benar amazed. Bener-bener takjub sama hal beginian, walaupun aku tidak mempelajari filsafat. Berasa kecil. Berasa kita pada tahun 2015 masih ibarat ngupas kulit apelnya doang. Kita baru nyentuh permukaannya doang. Entahlah, hari ini membuat kepala yang asalnya penat menjadi segar.

There's so many things to explore, to learn, and to experience. We even barely touch the scratch.

Jadi, kembali lagi. Apakah filsafat mendekatkanmu atau menjauhkanmu dari Tuhan? Menurutku, mendekatkan. Sekian (karena aku sudah mengantuk hahaha).

Friday, February 21, 2014

Tanggapan atas "Sekolah Terbodoh Sedunia vs Sekolah Juara Olimpiade Internasional"

Siang ini saat aku membuka Facebook, aku melihat ada dua teman yang menge-share suatu postingan di Kompasiana.com berjudul "Sekolah Terbodoh Sedunia vs Sekolah Juara Olimpiade Internasional". Aku tertarik untuk membacanya dan bergegas mengeklik link-nya (dapat dibaca di sini)

Inti dari postingan itu sih tentang reputasi pendidikan Indonesia yang terburuk di dunia karena Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara pada hasil test Matematika dan Sains yang diselenggarakan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2013. Padahal 20% dari APBD dialokasikan untuk dana pendidikan. Walaupun begitu, Indonesia telah banyak memenangkan olimpiade Matematika dan Fisika. Tetapi, menurut penulis, peserta olimpiade kebanyakkan dari sekolah-sekolah yang itu-itu saja dan kemudian penulis mempromosikan suatu sekolah swasta terkenal di Jakarta yang memiliki sistem pembelajaran yang lebih baik. Lalu, postingan tersebut diakhiri dengan kalimat, "Hasilnya: mencetak anak-anak terbodoh sedunia sebagai penerus generasi bangsa."

All of those facts are alright and I already checked them on Wikipedia and Google. Saran penulis untuk terus memperbaiki pendidikan Indonesia juga benar dengan memberikan contoh suatu sekolah swasta. However, apakah data-data yang didapatkan oleh penulis cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia mempunyai kurikulum terbodoh sedunia? Apakah benar Indonesia menempati peringkat terbawah? Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuatku sampai iseng-iseng main ke BBC hanya untuk mengecek keakuratan tes PISA (artikel BBC dapat dibaca di sini).

Jawaban para ahli adalah mereka meragukan tes ini sebagai patokan utama kecerdasan anak-anak dari suatu negara. Soal yang diberikan oleh PISA sama, tetapi jawaban masing-masing anak dapat berbeda, tergantung budaya, persepsi, bahasa, bahan yang telah diajarkan, kondisi fisik dan mental saat itu, dll.. Sebenarnya, kecerdasan itu kualitatif dan terkadang sistem pendidikan dalam suatu negara itu tidak merata. So, yeah, I dare to say she was too quick to judge everything. Aku tidak bermaksud untuk berkelit menghadapi kritikan pedas tersebut. Aku hanya mempertanyakan apakah suatu tes bisa menjadi jawaban bagi segalanya. Lagipula, penulis pun tidak jelas dalam menuliskan hasil tes PISA tahun keberapa saat Indonesia menempati peringkat terbawah.

Banyak banget X Factors yang pengen aku omongin masalah sekolah negeri dan swasta, budaya, dll. Saat hampir mencapai akhir postingan, aku membaca suatu kalimat yang terasa getir di pikiran. "Membuat anggaran belanja buku 40%-50% lebih mahal dari harga buku." Kalau dibaca sekilas, hal itu memang ga adil. Tapi, ceritanya bakal lain kalau pembaca mengerti kehidupan dan penghasilan guru sekolah negeri yang sekolahnya gratis dan guru itu ga dapat tunjangan dari pemerintah. Dia pasti harus putar otak dong untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Aku memaklumi hal itu dan it's okay selama harga belanja buku terjangkau oleh murid-muridnya. Berbeda dengan sekolah swasta yang bayarannya sudah jelas.

Akhir kata, kita harus diplomatis dalam mengutarakan pendapat agar pendapat kita tidak terkesan memaksa, berlebihan, dan tidak melukai perasaan orang lain. Intinya mah menyampaikan pesan kepada lawan bicara atau pembaca dengan cara yang etis hehehe.

Wednesday, February 19, 2014

George Orwell's 1984 Review

Pertama-tama, aku bersyukur bisa beli novel brilian ini pada bulan Januari lalu. Novel ini bisa tergolong susah banget untuk dicari di toko-toko buku impor di Indonesia karena buku ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Selain itu, novel ini juga bertema komunis dan tirani jadinya (menurut aku sih) belum ada publisher yang mau menerbitkan novel terjemahannya. Cara aku bisa ngebeli novel ini juga aneh banget, kayak yang kebetulan gitu. Waktu itu, aku ga ada niat sama sekali buat pergi ke Bandung Indah Plaza, tetapi gara-gara salah naik angkot, aku malah turun dekat BIP dan memutuskan untuk pergi ke sana. "Siapa tahu ada 1984 di lantai dasar," pikirku. Lalu, voila! Banyak kopian 1984 berjejer rapi di dekat pintu masuk toko buku Books & Beyond.

1984 ini adalah salah satu novel tentang dystopian world yang terkenal dan dinilai sebagai suatu prophecy bagaimana menciptakan suatu dunia yang dikendalikan penuh oleh pemerintah yang totalitarian. Novel ini pada intinya menceritakan seorang lelaki bernama Winston Smith yang jatuh cinta pada Julia dan bagaimana mereka berdua survive untuk memperjuangkan cinta mereka dalam suatu negara bernama Oceania. Di Oceania, falling in love atau making love itu illegal kecuali untuk melahirkan keturunan saja. Setiap gerak-gerik masyarakat Oceania diawasi oleh telescreen dan siapapun yang membangkang peraturan pemerintah akan dihukum atau di-unperson. Unpersoning adalah proses menghilangkan eksistensi seseorang dan segala dokumentasi yang mengandung orang tersebut seolah-olah orang itu ga pernah lahir ke dunia ini. Sounds Stalinism so much?

Novel ini keren banget sumpah, a must-read novel. 1984 ini ibarat percampuran Stalinism, communism, dan dictator, serta settingnya lebih sadis daripada settingnya The Hunger Games. Kadang-kadang ngeri juga seandainya ada negara kayak gitu sekarang. Yah, bisa dibilang North Korea mendekati soalnya ada unsur the cult of personality (seorang pemimpin yang harus selalu dihormati, ga peduli dia itu udah membuat kejahatan berkali-kali atau nggak), limited entertainment, dan hobinya perang terus.

Overall, 1984 itu salah satu novel yang wajib dibaca. Alur novelnya ga terlalu roller-coaster, tapi twistnya bikin orang membelalakkan mata. Akhir kata, it would so freaking horrible to see George Orwell's prophecy in 1984 come true.

Monday, September 16, 2013

Becoming An Echelon (A Fan of 30 Seconds to Mars)

Aku terkadang merasa aneh pada diriku sendiri yang selalu menjadi fan "telat" sebuah band atau penyanyi. Maksud dari fan yang telat ini adalah orang yang sudah mengenal atau mendengarkan lagu-lagu dari suatu band bertahun-tahun lalu, tetapi baru menjadi penggemar mereka sekarang. Yah, mungkin kebanyakan orang menilai hal ini wajar karena tidak semua orang dapat menyukai suatu musisi dalam jangka waktu yang cepat. Sekarang adalah giliran 30 Seconds to Mars yang digemari olehku.

Well, aku tidak usah menjelaskan sejarah terbentuknya 30 Seconds to Mars atau diskografi mereka. Aku sudah mendengarkan lagu-lagu dari band ini sejak di bangku SMP, terutama lagu berjudul From Yesterday yang membuat mereka semakin mendunia. Jared Leto adalah salah satu musisi yang saya sukai, tetapi nggak nyangka juga aku malah jadi fangirl-nya dia sekarang LOL.

Wednesday, May 29, 2013

Mr. Nobody Review

"As long as you don't choose, everything remains possible."


Kali ini aku akan membahas review dan komentarku terhadap film yang dibintangi oleh aktor/musisi berbakat dan ganteng :3 yang bernama Jared Leto. Aku langsung tertarik untuk menikmati Mr. Nobody saat melihat trailer filmnya yang menampilkan kehidupan manusia di masa depan, tepatnya pada tahun 2093, Jared Leto yang andal dalam memerankan seorang kakek tua berumur 118 tahun dan bernama Nemo Nobody, serta ingatan-ingatan Nemo mengenai masa lalu yang membingungkan.

Berikut adalah sedikit cerita tentang Mr. Nobody karena aku tidak berniat untuk menumpahkan semua air yang ada dalam gelas. Nemo Nobody adalah seorang kakek berumur 118 tahun yang tidak akan lama menemui ajalnya. Dia adalah satu-satunya manusia mortal yang masih hidup di tahun 2093 karena manusia-manusia lainnya telah diubah melewati prosedur tertentu menjadi makhluk kekal. Namun, Nemo tidak bisa mengingat masa lalunya dengan baik karena pikun. Lalu, seorang dokter pun turun tangan dalam menelusuri memori Nemo dengan cara menghipnotis Nemo setiap hari. Pada suatu malam, seorang jurnalis menyusup ke kamarnya untuk mewawancarai Nemo. Dari sinilah, kita akan mengerti siapa Nemo ini melalui memori-memorinya yang terburai.

Bagi kalangan yang menyukai teori Butterfly Effect dan The Big Crunch, film ini cocok untuk ditonton. Film ini menjelaskan beberapa teori waktu dan ruang, tetapi juga mengajarkan kita untuk berani memilih jalan hidup yang benar-benar kita inginkan. Kalau kita tetap meragu, kita tidak akan berjalan maju. Thumbs up deh buat film ini walaupun masih ada beberapa pertanyaan yang menjanggal di dalam pikiran seusai menontonnya. Omong-omong, soundtrack-nya juga nggak kalah keren. :)

Aku akan terus menanti film-film yang berjenis seperti ini. Tidak megah, tetapi cukup ampuh untuk memberitahu kita pesan moral dan adegan-adegannya tidak mudah untuk dilupakan.

Monday, May 27, 2013

A Beautiful Mind Review

Liburan semester pun yang berkisar 3 bulan pun tiba dan aku akhirnya mempunyai kesempatan untuk menonton film-film yang sudah di-donlot ataupun yang ada di dalam DVD. Kemarin aku menonton dua film yang cukup bertema berat, tetapi benar-benar menyentuh dan aku menyarankan bahwa dua film itu very recommended untuk ditonton. Film-film tersebut adalah A Beautiful Mind dan Mr. Nobody.


Pertama aku akan membahas A Beautiful Mind yang aku tonton pada sore hari bersama dengan sebungkus keripik kentang rasa barbeque. A Beautiful Mind, karya Ron Howard (orang ini juga menyutradai Angels & Demons dan The Da Vinci Code) yang diangkat dari kisah nyata, mengisahkan seorang matematikawan bernama John Nash (dibintangi oleh Russell Crowe) yang melanjutkan studi di Universitas Princeton, Amerika. Laki-laki ini jarang membuat kontak mata dengan seseorang dan tidak sesukses teman-teman kuliahnya yang sudah membuat beberapa projek dan diterima di perusahaan-perusahaan besar. Setelah beberapa lama, ia akhirnya menemukan suatu teori ekonomi yang orisinil dan kemudian berhasil meraih gelar professor. Namun, hal-hal yang aneh mulai terjadi saat John Nash direkrut oleh Pentagon untuk memecahkan kode (oh yes, cryptography) demi mencegah meledaknya bom milik Rusia.

Overall, film ini keren banget! Aku juga sempat tertipu beberapa kali saat melihat orang-orang yang kukira nyata, ternyata itu hanya imajinasi John Nash. Alur cerita rapi dan jelas, tidak menimbulkan kebingungan sehabis menonton, twist yang oke, dan mempunyai pesan moral yang kuat. Yang aku salut juga adalah rumus-rumus Matematika yang ditulis sepanjang film itu rumus-rumus yang nyata (termasuk Riemann problem). A Beautiful Mind merupakan salah satu cerita sedih yang membahas orang-orang yang tidak bisa membedakan mana realita dan mimpi atau, dalam istilah kedokteran, gejala ini disebut skizofrenia.

Satu hal yang ingin disampaikan dari film ini adalah rasa pantang menyerah yang didorong oleh ambisius yang normal (karena ambisius yang berlebihan akan menghancurkan manusia, suatu kutipan dari Black Swan). Walaupun John Forbes Nash, Jr. menderita skizofrenia, dia berhasil bangkit dari keterpurukannya dan meraih penghargaan Nobel. Well, kesimpulannya film itu tidak harus megah dan elegan, tetapi dapat menyentuh hati dan pikiran penonton serta mengajarkan pesan kehidupan. :)

Saturday, April 13, 2013

Filosofi Jatuhnya Okonomiyaki dan Okonomiyaki yang Tertukar

Hari Sabtu ini adalah satu dari sekian hari yang unik. Mungkin karena aku melihat beberapa kejadian dari sudut pandang yang berbeda di saat orang lain menganggap kejadian tersebut adalah hal konyol dan menjengkelkan.

Kejadian pertama terjadi saat aku makan malam bersama teman-teman kampus di kedai Ling-Ling yang berlokasi di Sukajadi, tak jauh dari mall PVJ. Aku penasaran pada rasa Okonomiyaki yang belum pernah kumakan sebelumnya hingga aku memesan makanan Jepang tersebut dengan topping beef (daging). Harusnya okonomiyaki pada umumnya berisi gurita, tapi aku tidak bisa memakan gurita. Yah, okonomiyaki seharga 17 ribu ini mungkin takkan mengecewakan, pikirku.

Saat pelayan datang membawa pesanan, tak sengaja pelayan tersebut menjatuhkan okonomiyaki beef milikku. Pelayan itu langsung meminta maaf dan tergopoh-gopoh membawa sapu dan pengki untuk membereskan makanan yang tumpah di atas lantai. Kemudian, dia bilang bahwa okonomiyaki beef akan segera dibuat kembali. Aku tidak merasa emosi atau tidak sabar karena itu sebuah kecelakaan. "Oke. Terima kasih ya," jawabku.

Setelah beberapa menit, okonomiyaki pesananku datang akhirnya. Aku langsung melahap makanan itu selagi masih panas. Tak lama, aku merasa aneh ketika melihat sebuah bagian berwarna merah hati, berbentuk lingkaran, dan berlapis seperti daun bawang di dalam okonomiyaki. Teman-teman pun berpikir sambil mencoba bagian itu. "Oh, ini mah kepiting," kata temanku.

Tertukar? Tentu saja.

"Udah mah tadi jatuh, nunggu lama, sekarang malah ketuker."

Hahahah benar-benar tidak beruntung. Walaupun begitu, aku tetap menikmati okonomiyaki kepiting tersebut sembari membagikan potongan kepiting pada teman-teman. Memang terasa enak karena bumbunya dapat diterima oleh lidah orang Indonesia. Kami pun pulang sehabis semua makanan dihabiskan dan membayar tagihan.

Saat aku dalam perjalanan pulang, aku tiba-tiba terpikir suatu analogi dari okonomiyaki tersebut. Kita tidak selalu mendapatkan hal yang kita inginkan dan harus berusaha sambil menunggu sabar untuk mendapatkan hal itu kembali. Kadang-kadang, ketika hal yang kita dambakan akhirnya datang, hal itu tidak berbentuk seperti gambaran kita. Namun pada akhirnya, kita dapat menikmati hal itu dan bahkan bisa berbagi hal itu (atau hasil) kepada orang-orang di sekitar kita.

Itulah sebabnya postingan satu ini diberi judul "Filosofi Jatuhnya Okonomiyaki dan Okonomiyaki yang Tertukar". Sounds like a dramatically cliche philosophy, I guess. Well, semoga aku masih bisa diberi kesempatan untuk menikmati hidup pada hari-hari berikutnya.


Current Song: Jonathan Rhys Meyers - This Time

Wednesday, March 27, 2013

The Rights to Enjoy School's Facilities

Kini aku duduk sendirian lagi dekat jalur hijau tanaman di dalam tempat yang berbeda bernama sekolah. Meskipun sekolah ini bukan tempatku bersekolah, aku selalu merasa takjub saat memandang arsitektur bangunannya. Aku tahu aku bukanlah seseorang yang pakar dalam bidang arsitektur, tetapi itulah yang kurasakan. Dibandingkan sekolah-sekolah tempat aku belajar dahulu, kualitas bangunannya di atas mereka. Menurut banyak orang, bangunan sekolah dan universitas milik swasta Kristen atau Katolik pasti mempunyai bangunan yang baik.

Itulah sebabnya aku jauh-jauh datang ke sini untuk menikmati pemandangan yang ada dalam benak sekolah ini. Orang lain akan menganggap tindakanku itu buang-buang waktu. Namun, apa salahnya mengunjungi suatu bangunan berkualitas tinggi.

Setiap kelas ini mempunyai air conditioner dan memiliki bangku-bangku terpisah seperti di sekolah internasional dan memberlakukan sistem moving class seperti di kuliah. Sekolah ini melingkupi Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Wah, memang cukup mengesankan. Walaupun begitu, aku tidak (mau) tahu urusan administratif di sekolah ini.

Aku pun jadi teringat suatu social gap dan diskriminasi yang sempat terjadi di sekolah-sekolahku terdahulu. Kelas-kelas yang dilengkapi dengan fasilitas mewah seperti air conditioner, infocus, bangku-bangku terpisah, wallpaper dinding, dan komputer khusus selalu dimiliki oleh kelas-kelas unggulan, terpilih atau akselerasi. Sedangkan, kelas-kelas selain itu seperti ruangan-ruangan tua yang kurang diurus. Bangku-bangku penuh vandalisme berwarna putih dari correction pen, kolong bangku yang penuh sampah, dinding tua yang memajang coretan dan jejak sepatu kotor, dan papan tulis putih yang mulai menguning menjadi saksi bisu saat murid-murid mengimba ilmu.

Oleh karena itu, teman-temanku di sekolah dulu sempat iri karena mereka tidak mendapatkan hak yang sama dengan mereka yang duduk di kelas unggulan dan akselerasi. Selain itu, tahun angkatanku yang pertama kali mengalami suatu audisi untuk menjadi murid kelas unggulan. Semacam percobaan untuk menjadi sekolah berstandar nasional (masih ingat RSBI dan SBI yang mengacaukan sistem pendidikan di Indonesia), sebutlah begitu. Perubahan pasti menimbulkan pro dan kontra dari lingkungan sekitar dari perubahan berdampak baik sampai buruk, bukan?

“Bukankah kita seharusnya memerhatikan kualitas pendidikannya? Kualitas bangunan bukanlah prioritas sistem pendidikan yang baik.” Pendapat ini juga tidak bisa dikatakan salah.

Saranku sih sistem pendidikan Indonesia harus meniadakan kelas-kelas unggulan dan akselerasi seperti yang telah dilakukan oleh negara Finlandia yang menempati posisi nomor satu dalam urutan negara-negara yang memiliki kualitas pendidikan terbaik sebab semua anak sebagai murid mempunyai hak dan kewajiban yang sama rata. Aku teringat suatu kutipan yang aku lupa siapa pemilik dari kutipan tersebut. “Sekolah harus diperlakukan seperti taman kota. Semua orang dapat mengakses tempat tersebut dan mendapatkan pengalaman yang berkesan.” Jangan lupa untuk menggarisbawahi “semua orang”.

Bagaimana menurut kalian? Apakah sekolah-sekolah di Indonesia harus membubarkan kelas unggulan dan kelas akselerasi yang dilengkapi fasilitas mewah sedangkan kelas-kelas reguler tidak bisa menikmati fasilitas tersebut?

Current song: Suede – What Are You Not Telling Me?

Saturday, March 23, 2013

Loneliness >< Togetherness



Hari ini aku memutuskan untuk iseng pergi jalan-jalan sendirian karena telah lama aku tidak jalan-jalan sendirian. Setelah memasuki universitas dan berteman dengan orang-orang keren berlatar belakang yang beraneka ragam, aku menjadi sering bersenang-senang dengan mereka, misalnya makan siang bareng, mengerjakan tugas bersama, bermain game bersama, kemana-mana sering bareng, bahkan tak jarang kita akan saling berbagi pengalaman masa lalu. Setelah setengah jam bermain di Game Master Ciwalk hari ini, aku merasa ada yang hilang.

Something’s missing.

Kemudian, aku merasa sungguh sendirian dan gelisah. Lalu aku sadar, aku selalu tertawa dan menjahili teman-teman saat bermain game walaupun aku hanya bersama dengan satu orang. Sekarang, aku hanya bisa duduk termangu dan melihat orang-orang tertawa bersama teman, keluarga atau kerabat mereka. Dulu, aku justru menikmati kesendirian dan menganggap kalau jalan-jalan bersama itu merepotkan karena harus berunding ingin pergi ke mana dahulu dengan beberapa orang yang mempunyai tujuan tempat yang berbeda-beda.

Kupikir itu salah satu hal yang aneh. Ternyata tidak. Persepsiku mengenai kebersamaan berubah karena kebiasaan dan keadaan sekitar. Namun, tolong garis bawahi bahwa persepsi yang berubah itu hanya berada dalam konteks jalinan pertemanan. Kalau masalah berusaha untuk mendapatkan nilai akademis yang baik, kita tak selamanya bisa bergantung pada bantuan teman. Selain itu, kita harus mempunyai prinsip agar tidak terjerumus ke dalam perilaku negatif yang dilakukan oleh teman kita beratasnamakan solidaritas.

Ups, aku tidak akan membahas musuh karena kita diajarkan untuk berbuat baik kepada sesama dan kepada pencipta kita. Jika ada teman yang sampai melukai hati kita karena masalah, usahakan tetap berkepala dingin dan segera luruskan masalah tersebut dengannya. It’s always easier said than done, but it’s not wrong if we try and keep doing it, right?

Walaupun begitu, ingat bahwa pada akhirnya kita akan menjadi sendiri, terutama saat kita sedang menjalani dunia kerja, rumah tangga, atau menghabiskan masa tua.