Sunday, June 28, 2015

Farewell My Concubine Review

"What does it take to become a star?"


Pada awalnya, aku mengenal film Farewell My Concubine dari salah satu episode acara Running Man yang syuting di Hongkong. Pada game pertama, mereka ditugaskan untuk menjawab kuis seputar belantara perfilman Hongkong. Salah satu dari pertanyaan tersebut mengenai film terkenal yang bertema opera Tionghoa dan jawabannya adalah Farewell My Concubine. Selain Farewell My Concubine, aku juga mengenal sebuah film cult bergenre action hasil besutan John Woo yaitu A Better Tomorrow. Salah satu aktor Hongkong multitalenta bernama Leslie Cheung, sama-sama menjadi peran utama di kedua film tersebut. Prestasi Leslie Cheung yang menjadi motivasiku untuk memburu film Farewell My Concubine yang konon katanya juga amat melegenda. Review-review di berbagai situs web, termasuk Roger Ebert, memberikan rating minimal 4/5 atau 8.5/10 dan film ini sampai dinominasikan Oscar. Fakta lain mengatakan bahwa film ini cenderung membahas homosexuality. Wah, makin penasaran nih buat nonton. Coba saja Leslie Cheung masih hidup hingga kini, ia pasti sudah bisa menembus dunia Hollywood seperti Andy Lau, Chow Yun Fat, Jackie Chan, dan Jet Li.

Farewell My Concubine berceritakan tentang kehidupan dua aktor pemeran opera Tionghoa tradisional bernama Cheng Dieyi (diperankan oleh Leslie Cheung) dan Duan Xiaolou (diperankan oleh Zhang Fengyi). Mereka telah bersahabat semenjak kecil di tempat pelatihan opera yang memiliki didikan yang sangat disiplin. Dieyi dan Xiaolou terkenal lihai memerankan seorang selir dan seorang raja dalam opera bertajuk 霸王别姬 (The Hegemon-King Bids Farewell to His Concubine). Kisah pertemanan mereka pun semakin intim hingga seorang perempuan bernama Juaxian (diperankan oleh Gong Li) mulai menjalin asmara dengan Xiaolou. Selain itu, eksistensi mereka sebagai aktor opera tradisional diuji oleh perang dan revolusi yang terjadi di Tiongkok selama puluhan tahun.

Farewell My Concubine berdurasi hampir tiga jam dan kuakui bahwa ini adalah salah satu film drama yang benar-benar intens bagiku. Film ini juga membahas secara singkat tentang sejarah yang telah diukir di daratan Tionghoa dari era 20'an hingga 70'an. Mulai dari penjajahan Jepang hingga pemerintah tirani yang menganut paham komunis, banyak nyawa tak berdosa yang telah menjadi korban. Setelah diperhatikan kembali, film ini tidaklah berfokus pada homoseksualitas yang melingkari hubungan Dieyi dengan Xiaolou. Farewell My Concubine menitikberatkan kehilangan identitas Dieyi yang menjadi feminim karena terus menerus berlatih dan memerankan menjadi seorang selir. Dieyi tidak pernah berkesempatan memerankan seorang tokoh laki-laki karena Dieyi telah 'divonis' oleh pelatihnya bahwa Dieyi cocok menjadi seorang perempuan. Selain kehilangan identitas maskulin, Dieyi juga merupakan anak yang dibuang dan hanya Xiaolou yang peduli kepada Dieyi di tempat pelatihan opera. Oleh karena itu, Dieyi amat menyayangi Xiaolou.

Secara keseluruhan, Farewell My Concubine merupakan salah satu film Mandarin yang masterpiece dan film ini pantas masuk nominasi Oscar. Aktingnya Leslie Cheung yang sangat mengkhayati dan cerita pedih yang disuguhkan menjadi dua pilar penting. Ironisnya, film hebat ini sempat dilarang tayang di daratan Tiongkok karena menceritakan sejarah Tiongkok mengenai revolusi komunis yang ingin menghilangkan opera tradisional. Akhir kata, film ini wajib untuk ditonton dan film ini memang berkesan di hati.

Saturday, May 30, 2015

Ergo Proxy Review

"Cogito ergo sum. I think, therefore I am."


Sudah lama aku tidak menonton sebuah seri anime sampai selesai dan sampai browsing di internet hanya untuk mencari informasi mengenai seri anime tersebut. Seingatku, anime yang paling terakhir kunikmati adalah Ghost in the Shell. Ghost in the Shell adalah salah satu anime yang legendaris dan menginspirasi sutradara The Matrix. Dari Ghost in the Shell, aku mulai mengenal anime yang bernama Ergo Proxy. Menurut para netizen dan fans Ghost in the Shell, Ergo Proxy sangat highly recommended karena memiliki tema dan alur cerita yang hampir sama dengan Ghost in the Shell. Aku belum melanjutkan menonton Ghost in the Shell semenjak libur semester lalu. Untuk melepas penat sehabis menjalani semester ini, aku iseng mencicipi Ergo Proxy.

Holy hell. Wow.

Episode pertama berhasil memancing rasa penasaranku terhadap anime ini. I love this! Ergo Proxy menawarkan tema steampunk, psychological, filosofi hidup, dystopia, dan sedikit intrik politik. Warna gelap mendominasi setiap grafik adegan yang sangat menggambarkan suasana latar dunia yang kelam. Ergo Proxy bercerita tentang seorang inspektur muda bernama Re-L Mayer yang tinggal di kota bernama Romdeau. Dunia pada saat itu sebagian hancur karena suatu percobaan penemuan suatu bahan bakar metana untuk menggantikan bahan bakar fossil. Di Romdeau, semua penduduk termasuk manusia dan AutoReiv (sebutan robot) hidup sejahtera. Walau begitu, virus bernama Cogito menyebar dan menyerang para AutoReiv. Karena virus cogito, AutoReiv memiliki self-awareness seperti manusia dan mulai bertingkah seperti manusia misalnya berdoa, meluapkan emosi, dan lain-lain. Di samping itu, pemerintah kota Romdeau diam-diam mengadakan eksperimen untuk meneliti suatu makhluk yang luar biasa kuat.

Re-L merasa hidupnya sangat membosankan sampai ia bertemu dua makhluk yang sedang diteliti oleh pemerintah. Mereka dinamakan Proxy. Lalu, Re-L ditugaskan untuk menangkap seorang pria misterius bernama Vincent Law yang diduga memiliki hubungan dengan Proxy. Re-L pun bertanya-tanya, siapakah Vincent? Apa kaitan Vincent dengan Proxy? Apakah Proxy itu sebenarnya? Mengapa ada Proxy di dunia ini? Siapakah yang menciptakan Proxy? Dari titik inilah, petualangan Re-L dimulai untuk mencari jawaban dari segudang pertanyaan dan tentu saja, menguak identitas Vincent Law yang sesungguhnya.

Fiuh, Ergo Proxy benar-benar intens dan kaya akan filosofi, metafora, serta alegori. Ketika menonton setiap episode, aku harus sangat memperhatikan setiap dialog agar dapat mengerti apa yang sedang terjadi. Selain itu, nilai plus utama yang dimiliki oleh Ergo Proxy adalah character development yang menakjubkan. Tidak ada protagonis yang murni protagonis dan tidak ada antagonis yang murni antagonis. Karakter-karakter yang ada di Ergo Proxy terbilang manusiawi dan mereka masing-masing memiliki tujuan hidup dan tekad yang kuat, termasuk para AutoReiv. Satu lagi, ending Ergo Proxy sangat sangat sangat keren! Vincent Law berhasil masuk ke dalam daftar karakter anime terfavoritku.

Memang, Ergo Proxy bukanlah anime untuk semua orang. Ergo Proxy bukanlah anime yang bisa dilahap sekali saja, tetapi perlu diresapi dan bahkan dilahap ulang untuk mengerti sejarah, latar tempat dan karakter yang ada di Ergo Proxy. Alur ceritanya pun kadang-kadang membingungkan dan bahkan, ada beberapa episode yang sangat penuh akan filosofi hidup yang implisit. Meski begitu, Ergo Proxy pantas disebut sebagai salah satu anime tentang dystopia yang terbaik. Character development yang patut diacungi jempol, grafik yang bernuansa dark, dan konsep cerita yang baik nan kompleks membuat Ergo Proxy berkesan di hati.

Aku harap aku bisa menemukan anime lain yang tingkatnya setara dengan Ergo Proxy. Menurut website anime seperti myanimelist dan Funimation, Serial Experiments Lain, Psycho-Pass, Steins;Gate, Eden of the East, Neon Genesis Evangelion, Ghost in the Shell (ini sih udah jelas hahaha) mempunyai satu tema dengan Ergo Proxy. Jadi, bagi para pembaca yang menyukai anime-anime di atas, disarankan menonton Ergo Proxy.

Satu hal lagi, opening dan endingnya keren banget astaga. Opening dan ending theme-nya pun sama-sama berbahasa Inggris. Opening theme-nya adalah Monoral - Kiri. Ending theme-nya? Eng ing eng...Radiohead - Paranoid Android. Radiohead di sebuah anime. One of the best things ever.

By the way, Vincent Law is really cool! *fangirls*

Saturday, May 23, 2015

Mad Max: Fury Road Review

"A lovely day! What a lovely day!"


Untuk me-refresh pikiran setelah belajar, aku akan menulis sebuah review film yang sedang booming pada minggu ini. Ya, dari judul postingan blog dan poster yang terpampang sudah terlihat jelas jawabannya yaitu Mad Max: Road Fury. Dibuat oleh sutradara yang juga membuat film Mad Max pada tahun 70-an, Mad Max: Road Fury adalah film action yang berhasil memompa adrenalin penonton selama dua jam pas. Namun, tak hanya ledakan, kejar-kejaran, baku tembak dan hantam yang ditawarkan oleh film yang spektakuler ini. Film ini juga menawarkan plot cerita yang cukup sederhana, tetapi berkesan di hati penonton.

Film ini bertema post-apocalyptic dan dystopia sehabis terjadi banyak perang besar demi memperebutkan sumber daya yaitu minyak dan air. Sebagian besar wilayah di dunia hanya berhamparkan pasir dan limbah. Karena sumber daya yang semakin menipis, masyarakat mulai kehilangan akal dan saling meneror siapapun untuk mendapatkan sumber daya bumi. Kehidupan seorang lelaki bernama Max Rockatansky (diperankan oleh Tom Hardy) yang penuh dengan penyesalan dan depresi, mulai berubah ketika ia diculik oleh segerombolan War Boys dan bertemu seorang wanita tangguh bernama Imperator Furiosa (diperankan oleh Charlize Theron).

Imperator Furiosa menjadi karakter wanita favoritku, sama seperti Motoko Kusanagi dari Ghost in the Shell dan Lightning dari Final Fantasy XIII. Mad Max: Road Fury menghadirkan banyak karakter utama yang ingin berjuang, bertahan hidup, dan mencari keluarga mereka yang terpisah-pisah karena perang besar. Setting dunia yang ada di Mad Max: Road Fury sangat merepresentasikan dunia realita yang memaksa setiap penghuninya untuk terus bertahan hidup dan berjuang, terlepas dari post-apocalyptic dan tema steampunk. Banyak film action yang seperti angin lalu bagiku, tetapi tidak untuk film ini. Jadi, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Film ini memiliki komposisi action-packed dan drama yang pas. Tidak ada cliche dan tidak ada humor yang dipaksakan.

Wednesday, March 25, 2015

The Magnificent Complexity of Philosophy

Ada yang bilang bahwa mempelajari filsafat membuat kita dekat dengan Tuhan karena kita mempelajari akar dari segala ilmu. Ada yang bilang bahwa mendalami filsafat menjauhkan kita dari Tuhan karena kita mencari kebenaran. Apakah semua ini hanyalah konstruksi manusia demi tatanan masyarakat? Ataukah, memang benar ada?

Ah, jadi ikutan skeptis begini. Well, kalo kita tidak skeptis, semua informasi rekayasa pun kita telan bulat-bulat. Alasan kenapa aku tiba-tiba membahas filsafat karena aku mengunjungi perpustakaan Fakultas Filsafat sore ini. Aku berniat untuk meminjam buku karangan Fritjof Capra karena ibuku ingin membaca buku itu. Sayangnya, buku-buku yang ada di perpustakaan itu tidak bisa dipinjam.

Dua penjaga perpustakaan itu ngeliat aku kayak alien lagi berkunjung. Canggungnya ga tanggung-tanggung hahaha. Tapi, suasana pun menjadi cair pas aku ngasih tau aku dari kampus mana dan bapak penjaga perpustakaan menjelaskan peraturan mengenai buku-buku yang tidak boleh dipinjam. Aneh, emang ada apaan sampai ga boleh dipinjam begini? Akhirnya, bapak penjaga perpus mempersilakan aku untuk membaca-baca koleksi buku perpustakaan.

Padahal baru lemari pertama aja udah bikin aku tercengang.

Banyak buku-buku yang belum pernah kubaca atau kulihat sebelumnya, tetapi pengarang-pengarangnya benar-benar bikin aku excited. Hegel, Habermas, Leo Tolstoy, Albert Camus, bahkan St. Thomas Aquinas aja ada! Selain itu, ada Al-Quran dalam beberapa bahasa dan Injil (perjanjian lama dan perjanjian baru) dalam beberapa bahasa juga (bahkan, bahasa Sunda juga ada). Selain agama, perpustakaan ini menyimpan buku-buku mengenai filsafat, sains, feminisme, masalah mengenai dogma agama dan sosial, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bener-bener betah di situ dan ga kerasa udah jam 3 (kebetulan hujan sudah berhenti turun waktu itu).

Pas pulang, aku disambut dengan latar belakang disertasi milik ibu yang sudah selesai. Filsafat, psikologi, dan fisika. Sub-atomik, hukum ketidakpastian Heisenberg, Schrodinger, fisika kuantum yang dicetus oleh Max Planck, pergerakan elektron, pengobatan...sumpah keren banget. Mudah-mudahan ibu bisa menyelesaikan disertasinya dalam jangka waktu dekat.

Aku merasa benar-benar amazed. Bener-bener takjub sama hal beginian, walaupun aku tidak mempelajari filsafat. Berasa kecil. Berasa kita pada tahun 2015 masih ibarat ngupas kulit apelnya doang. Kita baru nyentuh permukaannya doang. Entahlah, hari ini membuat kepala yang asalnya penat menjadi segar.

There's so many things to explore, to learn, and to experience. We even barely touch the scratch.

Jadi, kembali lagi. Apakah filsafat mendekatkanmu atau menjauhkanmu dari Tuhan? Menurutku, mendekatkan. Sekian (karena aku sudah mengantuk hahaha).

Friday, February 21, 2014

Tanggapan atas "Sekolah Terbodoh Sedunia vs Sekolah Juara Olimpiade Internasional"

Siang ini saat aku membuka Facebook, aku melihat ada dua teman yang menge-share suatu postingan di Kompasiana.com berjudul "Sekolah Terbodoh Sedunia vs Sekolah Juara Olimpiade Internasional". Aku tertarik untuk membacanya dan bergegas mengeklik link-nya (dapat dibaca di sini)

Inti dari postingan itu sih tentang reputasi pendidikan Indonesia yang terburuk di dunia karena Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara pada hasil test Matematika dan Sains yang diselenggarakan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2013. Padahal 20% dari APBD dialokasikan untuk dana pendidikan. Walaupun begitu, Indonesia telah banyak memenangkan olimpiade Matematika dan Fisika. Tetapi, menurut penulis, peserta olimpiade kebanyakkan dari sekolah-sekolah yang itu-itu saja dan kemudian penulis mempromosikan suatu sekolah swasta terkenal di Jakarta yang memiliki sistem pembelajaran yang lebih baik. Lalu, postingan tersebut diakhiri dengan kalimat, "Hasilnya: mencetak anak-anak terbodoh sedunia sebagai penerus generasi bangsa."

All of those facts are alright and I already checked them on Wikipedia and Google. Saran penulis untuk terus memperbaiki pendidikan Indonesia juga benar dengan memberikan contoh suatu sekolah swasta. However, apakah data-data yang didapatkan oleh penulis cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia mempunyai kurikulum terbodoh sedunia? Apakah benar Indonesia menempati peringkat terbawah? Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuatku sampai iseng-iseng main ke BBC hanya untuk mengecek keakuratan tes PISA (artikel BBC dapat dibaca di sini).

Jawaban para ahli adalah mereka meragukan tes ini sebagai patokan utama kecerdasan anak-anak dari suatu negara. Soal yang diberikan oleh PISA sama, tetapi jawaban masing-masing anak dapat berbeda, tergantung budaya, persepsi, bahasa, bahan yang telah diajarkan, kondisi fisik dan mental saat itu, dll.. Sebenarnya, kecerdasan itu kualitatif dan terkadang sistem pendidikan dalam suatu negara itu tidak merata. So, yeah, I dare to say she was too quick to judge everything. Aku tidak bermaksud untuk berkelit menghadapi kritikan pedas tersebut. Aku hanya mempertanyakan apakah suatu tes bisa menjadi jawaban bagi segalanya. Lagipula, penulis pun tidak jelas dalam menuliskan hasil tes PISA tahun keberapa saat Indonesia menempati peringkat terbawah.

Banyak banget X Factors yang pengen aku omongin masalah sekolah negeri dan swasta, budaya, dll. Saat hampir mencapai akhir postingan, aku membaca suatu kalimat yang terasa getir di pikiran. "Membuat anggaran belanja buku 40%-50% lebih mahal dari harga buku." Kalau dibaca sekilas, hal itu memang ga adil. Tapi, ceritanya bakal lain kalau pembaca mengerti kehidupan dan penghasilan guru sekolah negeri yang sekolahnya gratis dan guru itu ga dapat tunjangan dari pemerintah. Dia pasti harus putar otak dong untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Aku memaklumi hal itu dan it's okay selama harga belanja buku terjangkau oleh murid-muridnya. Berbeda dengan sekolah swasta yang bayarannya sudah jelas.

Akhir kata, kita harus diplomatis dalam mengutarakan pendapat agar pendapat kita tidak terkesan memaksa, berlebihan, dan tidak melukai perasaan orang lain. Intinya mah menyampaikan pesan kepada lawan bicara atau pembaca dengan cara yang etis hehehe.

Wednesday, February 19, 2014

George Orwell's 1984 Review

Pertama-tama, aku bersyukur bisa beli novel brilian ini pada bulan Januari lalu. Novel ini bisa tergolong susah banget untuk dicari di toko-toko buku impor di Indonesia karena buku ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Selain itu, novel ini juga bertema komunis dan tirani jadinya (menurut aku sih) belum ada publisher yang mau menerbitkan novel terjemahannya. Cara aku bisa ngebeli novel ini juga aneh banget, kayak yang kebetulan gitu. Waktu itu, aku ga ada niat sama sekali buat pergi ke Bandung Indah Plaza, tetapi gara-gara salah naik angkot, aku malah turun dekat BIP dan memutuskan untuk pergi ke sana. "Siapa tahu ada 1984 di lantai dasar," pikirku. Lalu, voila! Banyak kopian 1984 berjejer rapi di dekat pintu masuk toko buku Books & Beyond.

1984 ini adalah salah satu novel tentang dystopian world yang terkenal dan dinilai sebagai suatu prophecy bagaimana menciptakan suatu dunia yang dikendalikan penuh oleh pemerintah yang totalitarian. Novel ini pada intinya menceritakan seorang lelaki bernama Winston Smith yang jatuh cinta pada Julia dan bagaimana mereka berdua survive untuk memperjuangkan cinta mereka dalam suatu negara bernama Oceania. Di Oceania, falling in love atau making love itu illegal kecuali untuk melahirkan keturunan saja. Setiap gerak-gerik masyarakat Oceania diawasi oleh telescreen dan siapapun yang membangkang peraturan pemerintah akan dihukum atau di-unperson. Unpersoning adalah proses menghilangkan eksistensi seseorang dan segala dokumentasi yang mengandung orang tersebut seolah-olah orang itu ga pernah lahir ke dunia ini. Sounds Stalinism so much?

Novel ini keren banget sumpah, a must-read novel. 1984 ini ibarat percampuran Stalinism, communism, dan dictator, serta settingnya lebih sadis daripada settingnya The Hunger Games. Kadang-kadang ngeri juga seandainya ada negara kayak gitu sekarang. Yah, bisa dibilang North Korea mendekati soalnya ada unsur the cult of personality (seorang pemimpin yang harus selalu dihormati, ga peduli dia itu udah membuat kejahatan berkali-kali atau nggak), limited entertainment, dan hobinya perang terus.

Overall, 1984 itu salah satu novel yang wajib dibaca. Alur novelnya ga terlalu roller-coaster, tapi twistnya bikin orang membelalakkan mata. Akhir kata, it would so freaking horrible to see George Orwell's prophecy in 1984 come true.

Monday, September 16, 2013

Becoming An Echelon (A Fan of 30 Seconds to Mars)

Aku terkadang merasa aneh pada diriku sendiri yang selalu menjadi fan "telat" sebuah band atau penyanyi. Maksud dari fan yang telat ini adalah orang yang sudah mengenal atau mendengarkan lagu-lagu dari suatu band bertahun-tahun lalu, tetapi baru menjadi penggemar mereka sekarang. Yah, mungkin kebanyakan orang menilai hal ini wajar karena tidak semua orang dapat menyukai suatu musisi dalam jangka waktu yang cepat. Sekarang adalah giliran 30 Seconds to Mars yang digemari olehku.

Well, aku tidak usah menjelaskan sejarah terbentuknya 30 Seconds to Mars atau diskografi mereka. Aku sudah mendengarkan lagu-lagu dari band ini sejak di bangku SMP, terutama lagu berjudul From Yesterday yang membuat mereka semakin mendunia. Jared Leto adalah salah satu musisi yang saya sukai, tetapi nggak nyangka juga aku malah jadi fangirl-nya dia sekarang LOL.